11 Agustus 2008

Mumtaz My Heart

26 Juni 2008

kematian : akhir dan awal kehidupan


Allahku,
Berterusan dalam hariku kematian demi kematian kusaksikan

Sungguh kematian itu telah menggetarkan kalbuku tak cuma sedetik waktu

Tanpa sadar kugumamkan: Ya Malik.....kuasa-Mu, sungguh adalah sebenar-benar kuasa yang ada.....


Sejak dulu aku bertanya-tanya, seperti apakah rasanya bila suatu ketika masa hidupku di dunia ini telah berakhir. Dan akan berakhir seperti apakah macam-jenis dan bentuknya kematianku itu?
Akankah kematian yang 'biasa', dengan tanda terbaring sakit di tengah keluarga pada awalnya, tubuh gemuk yang berubah kurus pada akhirnya, namun tubuh tetap utuh, dimandikan, disholatkan,
hingga ke liang lahat dikebumikan. Ataukah kematian itu akan berujud kematian 'luar-biasa' , dengan tubuh hancur berkeping di medan jihad menegakkan keadilan dan kebenaran?.
Dan dengan kematianku itu, akan dengan cara bagaimana aku dikenang oleh orang-orang yang kutinggalkan?
Akankah aku dikenang dengan 'manis' atau sebaliknya 'pahit'? Ataukah aku bahkan tak akan pernah dikenang lagi oleh siapapun selamanya, hingga berarti hidupku itu telah sia-sia dan sekian lamanya berlalu hari-hariku tanpa membawa manfaat dan guna bagi manusia?
Namun pada akhirnya aku insyaf, apalah aku, siapakah diri ini?Apa urusanku pada kata 'dikenang' ataukah 'tidak dikenang' itu, dan seberapakah arti pentingnya bagiku, orang dengan tingkatan yang teramat biasa ini?.

Saat ini kembali tercetus di kedalaman jiwa tanya yang sama, tentang makna kematian itu, haru
s diartikan sebagai apa dan dengan persepsi yang bagaimana?
Benarkah kematian itu sebuah akhir dari kehidupan, atau sebaliknya adalah awal dari sebuah kehidupan?
Setelah lama bertafakur, aku memutuskan -semoga saja ini benar- lebih baik kusebut saja kematian itu sebagai akhir dan sekaligus awal kehidupan. Akhir dari kehidupan semu, awal dari kehidupan yang hakiki. Wallahu a'lam.....

10 Juni 2008

mak tua kini tiada

Setelah hampir tiga bulan berada dalam kondisi tubuh kerontang berbalut tulang, hari ini sekira pukul 12 siang, Mak pergi menghadap Tuhan, meninggalkan kami untuk selamanya. Tak mampu secara sempurna kugambarkan perasaanku, antara sedih dan gembira. Sedih lantaran kami takkan punya Mak lagi, yang sekian puluh tahun telah menikmati pahit-getir hidup bersama kami. Gembira lantaran kami merasa, mungkin inilah jalan terbaik bagi Mak, lepas dari derita sakitnya yang begitu lama, yang telah membuat kami semua tak tega.
Kini yang kukenang hanyalah budi baik Mak selama ini. Sama sekali tak terlintas segala ketaksempurnaannya sebagai Mak bagi kami semua. Saat sehat, bagaimana kulihat Mak dalam usia demikian uzurnya, seakan tak pernah punya rasa lelah. Segala hal ingin dilakukannya. Dari bersih-bersih rumah, halaman, mencuci baju, bahkan mengepel lantai yang kotor oleh ulah anak-anakku. Berulangkali kutegur istriku, janganlah menganggap Mak layaknya babu di rumah kami. Tapi yang sama sekali tak habis kumengerti, belakangan aku tahu sendiri bahwa Mak akan menangis bila ada yang melarangnya melakukan 'tugas rutinnya' itu. Ya Tuhan, sungguh makin kasihan aku dibuatnya. Namun di saat yang sama, aku tak mampu berbuat apa-apa untuk melarangnya. Sungguh aku tak ingin membuat Mak merasa kelelahan dengan kerja keras di usia tuanya. Dalam pandanganku, mestinya sudah cukuplah pengabdiannya bagi hidup anak dan cucunya. Mestinya Mak tinggal istirahat saja dengan nyaman, sementara semua hal biar kami saja yang membereskannya. Tapi aku juga tak tega bila harus membuat Mak menangis, karena bila kami melarangnya berbuat banyak untuk kami, Mak malah merasa bahwa pekerjaannya sudah tak cocok lagi buat kami, ini membuat Mak merasa dirinya tak berguna. Dan seperti katanya selalu, membuat Mak malu hidup 'ngenger' pada kami.

Sekarang, Mak sungguh telah tiada. Aku tak sanggup menangis, juga tak sanggup untuk tertawa. Bahkan untuk bicara banyakpun, aku sama tak kuasanya juga. Aku hanya bersyukur, sebelum Mak menghembuskan nafas terakhirnya, masih sempat kukirim doa dan bacaan Qur'an di sisi pembaringannya. Sebelum Mak hilang dari pandanganku, masih sempat kulihat wajah renta itu untuk terakhir kalinya. Kiranya Tuhan mengampuni segala kesalahan dan dosa orangtua yang baik hati ini. Kiranya pula Dia mengasihinya dalam naungan Rahmat dan Ampunan. Amin.



22 Desember 2007

anugerah besar derita besar

Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, tahun ini pun saya patut bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kembali antara saya dengan bulan mulia dimana terdapat hari raya qurban di dalamnya, hari yang bermakna teramat istimewa bagi semua hambaNya. Hari sukacita dan saat terbaik untuk kembali melakukan perenungan mendalam akan apa arti pengorbanan sejati makhluk terhadap Sang Khaliq, Sang Maha Tuan yang telah memberikan segalanya untuk kita, bahkan walaupun tanpa kita meminta dariNya.

Meski belum mampu untuk mempersembahkan sembelihan hewan qurban di bulan ini, saya merasa sedikit terlipur setelah membaca sebuah tulisan yang memaparkan tentang arti hari raya qurban dalam perspektif lain. Hari raya qurban adalah saat yang tepat bagi kita untuk menghancurkan berhala yang ada dalam diri kita, inilah saatnya kita harus segera menyembelih ego kita, bila pada saat yang sama kita belum mampu menyembelih seekor kambing atau lembu terbaik sebagai 'persembahan' bagi Dia, sehingga dengannya pula kita dapat berkhidmat kepada para makhlukNya yang dhuafa dan layak menerima daging qurban itu.
Tahun inipun adalah tahun istimewa karena didalamnya ada bulan yang kita kenal sebagai bulan atau musim pelaksanaan ibadah haji. Sebagaimana yang kita ketahui, ibadah haji merupakan sebuah kewajiban yang mengandung makna sakral dan agung, wujud ketundukan makhluk atas seruan dan panggilan Sang Khaliq. Musim haji adalah momen akbar universal bagi bertemunya para hamba dalam derajat yang setara di hadapanNya. Inilah saat-saat terbaik untuk terus merajut tali ukhuwwah, meningkatkan rasa persaudaraaan dalam iman, soliditas dan solidaritas dalam islam dan ihsan. Dan di tanah suci inilah tempat terbaik untuk menyetarakan frekwensi energi kita dengan pusaran energi alam raya, agar kita memiliki kekuatan dahsyat yang dapat menggetarkan hati para musuh, jauh sebelum kita mampu menghancurkan mereka dalam arti yang sesungguhnya. Bukankah kita tahu, bagaimana tampak digdayanya mereka hingga saat ini, bukan semata karena mereka lebih unggul dari kita dalam hampir segala hal, tapi tak lain adalah karena perasaan inferior yang berhasil mereka ciptakan dengan propaganda tiada henti di banyak media. Perasaan rendah diri inilah yang pada gilirannya menciptakan kelemahan dan keputus-asaan, meracuni akal pikiran dan menggerogoti harga diri, ghirah dan keberanian kita. Untunglah belakangan kita dikejutkan dengan berita besar tentang kemenangan ilahiah yang telah diraih saudara-saudara kita yang menyebut diri mereka sebagai Hizbullah. Sebuah kemenangan yang tak pernah disangka, di luar prediksi dan jangkauan akal manusia kebanyakan. Sebuah kemenangan yang semula tampak impossible di hadapan persepsi dunia, ternyata mampu diraih dengan berbekal keteguhan iman, kekuatan sumberdaya manusia yang tangguh, ditopang kepemimpinan mumpuni yang sejati, yang telah melahirkan strategi ampuh berhadapan langsung dengan musuh di medan laga yang sesungguhnya. Dan dengan kemenangan ilahiah itu pun kita kembali disadarkan akan kebenaran janji Allah, sesungguhnya hanya pasukan, tentara, dan partai Allah sajalah yang akan beroleh kemenangan.
Tahun ini saya patut bersukacita akan beragam anugerah besar dari Allah. Meski dalam mata lahir, anugerah besar yang saya maksudkan mungkin tampak sebagai derita besar bagi orang lain, biarlah.
Bagaimana tidak saya katakan derita besar itu sebagai anugerah besar dari Allah, karena dengan adanya itu semua, saya dapat meraih kembali ke-hamba-an yang sekian lama telah hilang dilumat waktu dan pesona duniawi.
Derita besar inipun terasa nikmat saat saya rela menikmatinya. Derita besar ini terasa kecil saat saya menganggapnya tak berarti di hadapan anugerah Allah yang tiada batas. Derita besar ini pula telah menuntun saya kembali ke jalanNya, pulang ke haribaan pintu Allah setelah pintu lain tertutup rapat buat saya. Derita besar ini telah membebaskan belenggu terkuat yang selama ini menjerat saya, belenggu yang menciptakan ketakutan, kegalauan, rasa frustasi dan kekhawatiran akan makna 'kehilangan' dalam hidup. Betapa derita besar ini telah mampu merubah diri saya yang semula enggan menerima segala 'takdir pahit', saat ini justru mengerti bahwa sesungguhnya tak ada yang namanya takdir pahit itu dalam kehidupan. Karena di tanganNya, sedari awal hingga saatnya berakhir, segala hal senantiasa berjalan sempurna.

21 Desember 2007

kabut pekat stigma sesat

Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengadakan siaran pers sehubungan dengan maraknya aliran sesat yang meresahkan umat Islam. Dalam catatan dikatakan bahwa MUI telah mengeluarkan sembilan fatwa mengenai aliran sesat, di antaranya Islam Jama’ah, Ahmadiyah, Inkar Sunnah, Komunitas Eden yang dipimpin Lia Aminuddin, shalat dua bahasa di Malang dan Al Qiyadah Al-Islamiyah, serta aliran sesat lainnya yang sifatnya lokal atau kedaerahan.
Dalam upaya mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana MUI memandang aliran sesat, Redaksi SYIAR melakukan Wawancara dengan Prof. DR. KH. Umar Shihab, Ketua MUI Pusat. Ditemui di rumahnya yang asri di bilangan Kelapa Gading, ulama asal Rapparang Sulsel ini memprihatinkan tentang kondisi kerukunan antar umat Islam di Indonesia.

MUI dan Fatwa

Syiar: Bagaimana proses keluarnya sebuah fatwa MUI?
Umar Shihab: Fatwa itu bisa keluar apabila disepakati oleh semua komisi fatwa, yang unsur-unsurnya terdiri dari ormas-ormas Islam dan perwakilan MUI, misalnya Muhammadiyah, Dewan Dakwah, Al-Irsyad, Tarbiyah Islamiyah, dll. Ini berlaku di seluruh Indonesia. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) juga sudah masuk MUI, ini organisasi baru yang orang anggap “ekstrim”. Semua organisasi Muslim yang sudah dikenal di Indonesia kita rangkul dan bisa masuk MUI, termasuk Syiah/Ahlulbat, tidak perlu dilarang.
Syiar: Mungkinkah MUI daerah mengeluarkan fatwa yang berbeda atau bertentangan dengan fatwa MUI Pusat?
Umar Shihab: Tidak boleh ada fatwa daerah yang bertentangan dengan pusat. Fatwa MUI Pusat berlaku nasional, meliputi seluruh Indonesia. Fatwa daerah hanya khusus untuk masalah-masalah lokal. Misalnya fatwa tentang shalat dengan menggunakan bahasa Indonesia, MUI daerah bikin fatwa kemudian diangkat ke tingkat pusat.
Syiar: Ada anggapan bahwa fatwa MUI lebih banyak mengurusi akidah atau keyakinan tapi tidak untuk masalah-masalah sosial.
Umar Shihab: Tidak benar. Kita juga membahas masalah-masalah yang mencuat dalam kehidupan masyarakat. Fatwa tentang korupsi sudah pernah ada, suap juga ada, pornografi juga ada.
Syiar: Mengapa tidak ada fatwa mati untuk koruptor?
Umar Shihab: Kita mempunyai komisi hukum dan perundang-undangan. Tapi MUI tidak pernah mengatakan menolak hukuman mati. Tidak pernah ada statement seperti itu. Karena kita tidak mau bertentangan dengan hukum al-Quran. Di dalam al-Quran itu ada qishash. Cuma kita tidak meminta supaya berlaku sepenuhnya. Kita lihat kondisi.
Syiar: Bagaimana hubungan antara MUI dan pemerintah?
Umar Shihab: Kita tidak mau berhadap-hadapan dengan pemerintah. Ini prinsip yang juga bagian dari dakwah kita. Ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal mauizatil hasanah. Kita dakwah dengan cara bijaksana. Kalau ada hal-hal yang tidak dilakukan oleh pemerintah, barulah kita tampil ke depan dan menyampaikan kepada pemerintah.
Misalnya saja RUU pengasuhan anak, rancangannya sudah hampir selesai tapi kita minta agar disesuaikan dengan aturan Islam. Contoh lain RUU pendidikan, sampai demonstrasi besar di kalangan umat Islam karena kita nilai hal itu bertentangan dengan ajaran Islam. Begitu juga dengan undang-undang pornografi dan pornoaksi.
Sayangnya, ada golongan umat Islam sendiri yang menolak. Ini yang kita sesalkan. Jangankan itu. Fatwa kita tentang sesatnya Al-Qiyadah Islamiyah yang menyatakan adanya nabi setelah Nabi Muhammad, masih saja ada orang Islam yang menyatakan bahwa itu tidak sesat, malah menuduh MUI yang sesat.


Fatwa Aliran Sesat

Syiar: Apa kriteria MUI tentang sesat atau tidaknya suatu ajaran?
Umar Shihab: Ada kerangkanya. Dia harus percaya bahwa Allah Swt itu Esa, Nabi Muhammad saw adalah rasul dan nabi terakhir, Al-Quran itu adalah kitab suci. Intinya yang ada di rukun Iman. Begitu juga dengan rukun Islam, adalah prinsip bahwa shalat itu lima kali sehari, puasa Ramadhan, haji ke baitullah. Kalau bertentangan dengan rukun iman dan Islam maka ia bisa dianggap sesat.
Kita anggap Lia Aminuddin sesat karena menganggap dirinya mendapat wahyu dari Jibril. Nah, masih banyak lagi kelompok yang sekarang masuk kajian MUI. Tapi kita tidak pernah anggap sesat masalah khilafiyah.
Syiar: Ada pihak yang menilai bahwa keyakinan tidak bisa diadili.
Umar Shihab: Keyakinan memang tidak mungkin diadili. Tapi yang mungkin diadili adalah orang-orangnya karena dia melakukan dan percaya pada suatu keyakinan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Misalnya Ahmadiyah, kita anggap sesat karena dia meyakini adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Tapi sampai sekarang prosesnya belum selesai karena mereka sudah terlanjur mendapatkan izin sebagai yayasan, sebagai organisasi.


Fatwa sesatnya Syiah

Syiar: Bagaimanakah MUI menilai ajaran Syiah?
Umar Shihab: MUI tidak penah berbicara tentang mazhab. Bagi kami di MUI, masalah khilafiyah itu adalah suatu rahmat. Kita tidak mau kembali lagi ke masa lalu di mana perkelahian dan pembunuhan mudah terjadi hanya karena perbedaan mazhab.
Masalah mazhab tidak bisa di selesaikan. Biarlah Allah Swt yang mengadilinya. MUI tidak menganggap bahwa salah satu mazhab itu benar. Kita berdiri di semua pendapat bahwa semua mazhab itu benar. Begitu juga terhadap mazhab lain, mazhab Syiah misalnya. MUI berprinsip, bahwa kalau dunia Islam sudah mengakui Syiah sebagai mazhab yang benar, lalu kenapa MUI harus menolak?
Syiar: Pada Maret 1984 MUI pernah mengeluarkan fatwa yang isinya agar waspada terhadap ajaran Syiah.
Umar Shihab: Ya, itu pada tahun 1984. Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahan kondisi. Di Sunni sendiri juga ditetapkan seperti itu, bahwa fatwa bisa berubah karena perbedaan kondisi. Karena perbedaan tempat, Imam Syafii sendiri pernah mengubah fatwanya ketika beliau pindah ke Mesir dari Irak.
Begitu juga dengan beberapa fatwa lain di MUI. Saya bisa kasih contoh fatwa tentang aborsi. Semua aborsi itu dilarang. Islam tidak pernah membenarkan aborsi. Tapi, kemudian terjadi perubahan kondisi di mana terjadi kehamilan akibat perkosaan, sehingga aborsi pada kondisi tersebut dikecualikan.
Syiar: Dalam beberapa kasus, ulama daerah menisbahkan dirinya kepada fatwa MUI Pusat tahun 1984 atau fatwa ulama lain yang menyatakan Syiah itu sesat.
Umar Shihab: Sekali lagi, kita tidak pernah menyatakan Syiah itu sesat. Kita menganggap Syiah itu salah satu mazhab dalam Islam yang dianggap benar. Mengapa saya nyatakan demikian? Karena dunia Islam sendiri mengakui keabsahan mazhab ini. Apabila ia sesat, mustahil dan tidak boleh ia masuk ke Masjdil Haram. Kenapa mereka boleh masuk ke Masjidil Haram? Itu artinya orang Saudi sendiri mengakui bahwa mereka tidak sesat. Ia tetap Muslim, hanya saja mazhabnya berbeda dengan kita.
Kita harus membedakan dengan cermat antara istilah “sesat” dengan “beda”. Sesat itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dan sesat itu perlu diperbaiki melalui dakwah yang benar. Apabila sekadar beda ya boleh-boleh saja. Yang sesat itu jelas beda. Tapi tidak semua yang beda itu sesat. Di dalam Sunni sendiri banyak perbedaan.
Di Indonesia ini banyak hal yang beda. Cara wudhu, posisi tangan saat shalat, dll. Kenapa mesti dipersoalkan? Bahkan penentuan waktu 1 Syawal pun berbeda. Ini hal yang sangat berbeda. Yang berpuasa pada hari lebaran itu haram. Sedangkan pihak lain meyakini berlebaran pada hari puasa itu haram karena ia makan. Banyak hal yang beda di lapangan tapi kita tolerir. Ini semua masalah furu’iyah.
Syiar: Dengan komposisi ormas Islam “ekstrem” dan “tidak toleran” di MUI, apakah fatwa yang dikeluarkan oleh MUI itu tidak bias sehingga terkesan tidak hati-hati? Di antara organisasi tersebut ada yang menggunakan kriteria sesat untuk menyerang kelompok lain yang sebenarnya tidak sesat.
Umar Shihab: Mereka tidak boleh memberi interpretasi sendiri. Interpretasi itu hanya dari MUI. Seperti kasus di Sumatra Barat, MUI setempat menyesatkan suatu organisasi. Kemudian mereka datang ke Jakarta untuk klarifikasi. Setelah kita kaji, kita ketahui bahwa sesatnya mereka karena beranggapan pergi haji itu tidak perlu ke Masjidil Haram bagi yang tidak mampu. Ada haji bagi orang miskin. Ini tidak ada dasarnya dalam agama. Setelah diklarifikasi, kita nyatakan bahwa pemahaman, pedoman dan pernyataan ini harus dibersihkan dari organisasi tersebut.
Syiar: Jadi bisa disimpulkan bahwa pandangan Islam yang komprehensif dan baik tidak merata di daerah sehingga mereka tidak bisa membedakan mana yang sesat dan mana yang beda. Bagaimana menyikapi hal ini?
Umar Shihab: Saya selalu jelaskan, termasuk dalam rakernas baru-baru ini. Kita tidak perlu mempermasalahkan khilafiyah karena tidak ada hakim yang bisa memutuskan yang mana yang benar. Kita serahkan kepada Allah di hari kemudian nanti. Kita kembali kepada prinsip bahwa bila mujtahid itu salah dapat pahala satu, kalau benar dapat pahala dua. Nah, kita ini bukan mujtahid. Tidak ada sama sekali.
Memang dalam rapat itu ada orang yang ingin mengatakan lebih terperinci supaya orang yang shalatnya boleh tiga waktu itu sesat. Saya katakan itu bukan masalah prinsip karena dasarnya ada dalam Quran dan hadis. Janganlah bawa sejauh itu karena nanti efeknya lebih jauh lagi, mereka yang shalatnya tangannya turun ke bawah itu sesat juga. Masalah khilafiyah tidak boleh membawa pada perpecahan.
MUI menganggap bahwa Syiah adalah mazhab yang benar sebagaimana yang diakui oleh Rabithah Alam Islamy dan itu diakui oleh Al-Azhar. Bukti konkretnya, jamaah haji Syiah boleh masuk ke Masjidil Haram. Kalau mereka memang sesat, seharusnya tidak boleh masuk.
Perbedaan mazhab tidak bisa diselesaikan karena masing-masing punya argumentasi yang semuanya benar. Yang penting mereka mengakui dan meyakini keesaan tuhan, kesucian dan keotentikan Al-Quran, dan Muhammad sebagai nabi terakhir.
Indonesia itu mayoritas Sunni Syafii. Tidak semua mazhab itu ada di Indonesia, tapi bukan berarti ia tidak diterima. Bila semua ini tidak bisa disikapi secara arif akan bisa bermasalah. Misalnya dalam haji. Wahabi tidak mau berpakaian ihram di Jeddah, tapi di Miqat. Kalau kita naik pesawat Saudia Airline diumumkan bahwa kita sekarang sudah ada di Miqat, niatlah dari sekarang. Jadi orang-orang ramai berganti pakaian.
Nah, paham Wahabi sekarang sudah masuk di indonesia. Tapi fatwa MUI mengatakan bahwa boleh berpakaian ihram di Jeddah. Fatwa MUI ini juga diakui di beberapa negara Islam. Tapi ada juga pihak lain yang tidak mau pakai fatwa MUI, ya silakan.
Wahabi sendiri barang baru di Indonesia. Kalau semua yang beda dianggap sesat, maka Wahabi pun bisa masuk kategori sesat. Berbahaya sekali kalau yang beda dianggap sesat. Kalau pemerintah sekarang berpaham Wahabi, maka bisa-bisa mazhab Syafii pun dianggap sesat. Yang dianggap sesat itu adalah berbeda dalam hal akidah dan syariah.
Syiar: Bagaimana menjembatani kesenjangan mazhab Sunnah dan Syiah dewasa ini?
Umar Shihab: Saya kira melalui pertemuan-pertemuan di antara kedua belah pihak. Dakwah yang dilakukan satu sama lain tidak boleh saling menyerang. Orang yang memaki-maki orang lain itu sudah salah.
Saya pernah ke Iran dan saya lihat hal-hal luar biasa di sana. Saya juga pernah pergi ke Najaf dan Karbala [Irak]. Saya bertemu dengan ulama-ulama Syiah. Mereka shalat sama seperti kita juga. Cuma beda di azan. Saya bertanya, mengapa Anda menambah azan dengan “hayya alal khairil amal”? Mereka menjawab, sama halnya seperti Anda, mengapa Sunni menambah azan dengan “ashalatu khairum minan naum”?
Mereka malah bertanya balik, mengapa Anda mau tarawih padahal Rasulullah tidak tarawih? Bukankah itu datang dari Sayyidina Umar? Mengapa Anda tidak mengikuti apa yang datang dan diajarkan oleh Sayyidina Ali? Saya tidak bisa berkata apa-apa.
Kita perlu cari pendekatan-pendekatan, yang penting jangan saling serang dan menyalahkan. Nah, orang yang tidak tahu masalah mazhab inilah yang saling menyalahkan. Dia tidak mau memahami mazhab orang lain. Kita tidak sedang bicara politik. Yang terjadi di Irak itu bukan masalah mazhab, tapi politik. Ada kekuatan eksternal yang mempengaruhi konflik antar mazhab tersebut.
Kita di Indonesia tidak perlu terjadi seperti itu. Silakan kalau Anda mau jadi Syiah. Kenapa kita tidak lihat (konflik) di Saudi Arabia, di Makkah misalnya. Orang shalat dengan beragam cara tidak dipersoalkan. Kenapa ada orang shalat di hotel mengikuti kiblat masjidil haram? Apakah ada yang mempersoalkan? Kita harus bersatu. Kalau sesama Muslim gontok-gontokan, orang luar akan tertawa.


Kekerasan terhadap Syiah

Syiar: Apakah tindakan kekerasan yang dilakukan masyarakat terhadap komunitas Syiah di daerah-daerah bisa dibenarkan karena mereka mengklaim ikut fatwa MUI?
Umar Shihab: Tidak pernah bisa dibenarkan. Semua tindak kekerasan tidak pernah bisa ditolerir. Jangankan terhadap Syiah, terhadap aliran sesat pun kita tidak pernah tolerir tindak kekerasan.
MUI tidak pernah mentolerir aksi-aksi kekerasan seperti itu. Aliran sesat pun tidak pernah ditolerir untuk dirusak. Apalagi yang masih tidak sesat. Pelacuran saja, yang jelas-jelas tempat maksiat, kita tidak pernah mengatakan setuju untuk main hakim sendiri. Ini negara hukum, semua harus melalui proses hukum. Jadi kalau ada orang yang mau merusak rumah, masjid dan pesantren orang lain, itu bertentangan dengan undang-undang. Beritahukanlah polisi.
Syiar: Dalam beberapa kasus, MUI daerah pernah mengeluarkan surat pernyataan yang negatif tentang Syiah..
Umar Shihab: Itu keliru. Sangat keliru. Kita bisa tegur mereka kalau kedapatan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa MUI Pusat. Tapi memang hal ini (surat pernyataan/edaran MUI daerah) susah dipantau. Kalau MUI provinsi di tingkat satu mungkin bisa dipantau. Tapi sulit kalau sudah di bawah. Kalau ada data-data itu, tolong kasih saya.
Syiar: Kenyataannya ada ulama daerah yang meminta pembubaran Syiah dan pengusiran orang-orang Syiah atas nama MUI.
Umar Shihab: Tidak pernah. Itu adalah aktivitas personal yang tidak pernah kita tolerir dan tidak pernah kita benarkan. Aksi kekerasan itu karena kebodohan, fanatisme buta. Sebenarnya kita tidak ingin ada clash antara Sunni dan Syiah. Kita ingin damai, tidak ingin ada kekerasan.
Ketika tempo hari ada penyerangan atas komunitas Syiah di Bangil, saya sendiri langsung telpon Kapolda dan Kapolres supaya segera diambil tindakan, karena sesungguhnya MUI tidak pernah mentolerir adanya pengrusakan. Kapolri Jendral Sutanto pun mengatakan tidak boleh adanya pengrusakan. Anda bisa lihat sendiri di televisi bagaimana pernyataan saya.
Syiar: Sekarang ini ada oknum mengatasnamakan Ahlusunah yang memprovokasi umat Islam di daerah-daerah untuk membenci Syiah. Mereka juga menuding orang-orang yang moderat dan berpandangan objektif juga sebagai Syiah. Bagaimana mengantisipasi konflik horizontal antar mazhab di Indonesia?
Umar Shihab: Prinsip Islam itu satu. Janganlah kita ini gontok-gontokan. Orang yang melakukan provokasi itu bodoh, tidak tahu hakikat Islam. Kita akan minta kesadaran semua orang yang memprovokasi dan memecah belah umat bahwa pekerjaannya itu salah. Tindakan-tindakannya tidak pernah dibenarkan dalam Islam. Tolong ini dicatat.
Sikap kita kepada mereka hendaknya mengikuti sikap Nabi Muhammad tatkala dilempari batu oleh penduduk Thaif. Saat malaikat menyediakan diri menghukum mereka, Nabi malah mendoakan mereka dengan dalih bahwa mereka berbuat demikian karena tidak tahu.
Ada skenario besar yang ingin menghancurkan, bukan hanya umat Islam, tapi kesatuan bangsa Indonesia. Karena apabila umat Islam terpecah, otomatis bangsa Indonesia juga terpecah. Mereka sulit menyerang Islam dengan memakai agama-agama lain. Maka digunakanlah orang-orang Islam sendiri.


Haji Indonesia dan Syiah di Makkah

Syiar: Kuota jamaah haji tahun 2007 untuk Indonesia adalah 210 ribu orang, naik 5% dari tahun 2006 yang hanya 200 ribu jamaah. Namun masih banyak calon jamaah haji yang tidak terangkut dan kini masuk dalam waiting list. Bagaimana menjelaskan fenomena ini?
Umar Shihab: Ada tiga kemungkinan. Pertama, banyaknya orang yang ingin menunaikan ibadah haji adalah suatu indikasi bahwa kesadaran orang terhadap ajaran agama lebih baik dari masa-masa yang lalu. Kemungkinan kedua, ekonomi umat Islam Indonesia sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Kemungkinan ketiga, orang-orang Islam yang ingin berwisata atau jalan-jalan keluar negeri kini mengalihkan tujuan wisata, tidak lagi ke Eropa atau negara-negara lain, melainkan ke Makkah dan Madinah. Mereka berpikir, daripada ke Eropa lebih baik naik haji atau umrah. Niatnya sudah tidak murni ibadah lagi. Kemungkinan ketiga ini yang sangat disayangkan. Tapi, dari semua kemungkinan tersebut, motif yang paling banyak dan dominan adalah berangkat haji atas dasar ibadah.
Syiar: Jamaah haji di Indonesia terbesar di dunia tapi budaya korupsi marak di mana-mana. Bagaimana menyikapi hal ini?
Umar Shihab: Tidak usah dihubung-hubungkan. Saya tidak setuju.
Syiar: Ada pendapat yang menyatakan bahwa tempat-tempat suci umat Islam perlu diinternasionalisasi sehingga dana yang luar biasa besar jumlahnya tersebut dapat dioptimalkan untuk kesejahteraan dan pemberdayaan umat Islam di seluruh dunia.
Umar Shihab: Sebenarnya gagasan itu bisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama, bahwa tujuannya untuk mendapatkan imbalan dari umat Islam. Dana terkumpul yang begitu besar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Di sisi lain, kita punya aturan-aturan internasional yang membuat ide internasionalisasi Makkah dan Madinah itu menjadi mustahil. Karena kedua tempat itu masuk wilayah Saudi Arabia, jadi dilema.
Menurut saya, kita biarkan saja seperti sekarang, tidak harus diinternasionalisasi. Apalagi salah satu gelar raja-raja di Saudi itu adalah khadim al-haramain, penjaga wilayah kedua tanah Haram. Kita hanya mengharap bahwa pengaturan haji itu setiap tahun lebih ditingkatkan. Kalau memang sudah baik, kenapa kita harus buat satu aturan baru (internasionalisasi itu). Yang penting jangan ada halangan entah itu terkait unsur politik atau mazhab sehingga setiap orang bisa pergi ke sana. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada masalah.
Syiar: Artinya, haji itu berlaku untuk semua umat Islam dari mazhab manapun, termasuk juga mazhab yang berbeda dengan mazhab pemerintah Saudi sendiri?
Umar Shihab: Pokoknya semua mazhab tanpa kecuali. Pemerintah Saudi bisa jadi menggunakan mazhab dari sebagian ajaran Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad atau Imam Malik. Tapi tetap saja mereka yang tidak bermazhab sama dengan mereka bebas masuk ke Makkah dan Madinah. Alhamdulillah, itu kenyataan hingga sekarang. Mazhab Syiah juga bebas masuk ke Saudi Arabia dan tidak dilarang.
Setiap saya berangkat ke sana, saya melihat banyak orang Syiah. Kadang-kadang, mereka malah diberikan tempat yang lebih istimewa. Misalnya, dalam fikih Syiah dikatakan bahwa kalau orang berihram itu tidak boleh tutup kepala. Sehingga ada juga mobil yang disiapkan tanpa penutup atau atap. Ini sekadar bukti bahwa pemerintah Saudi juga memberikan kesempatan kepada orang-orang yang bermazhab selainnya.


Biodata Ketua MUI Pusat

Prof. DR. KH. Umar Shihab lahir di Rapparang, Sulsel, pada 2 Juli 1939.
Beliau menamatkan S1 di IAIN Alaudin Makassar (1966), S2 di Universitas Al-Azhar Kairo (1968), dan S3 Universitas Hasanuddin dalam Studi Hukum Islam (1988).
Banyak jabatan organisasi yang dilakoninya, antara lain: Ketua PII (Pelajar Islam Indonesia) Sulsel, HMI Cabang Makassar, Dewan Mahasiswa UMI Makassar, Dewan Mahasiswa IAIN Alauddin.
Selain itu, dia juga banyak mengemban jabatan akademik, antara lain: Wakil dekan IAIN, Dekan di UMI, anggota DPRD Propinsi Sulsel, anggota MPR-RI, Ketua MUI Sulsel, dan kini Ketua MUI Pusat.
Karya ilmiah yang dipublikasikan, antara lain: “Al-Quran dan Rekayasa Sosial”, “Transformasi Pemikiran dalam Hukum Islam”, “Elastisitas Hukum Islam“, “Kontekstualitas Al-Quran”, dan lain-lain.



12 Desember 2007

bakar-bakar jagung bakar

Kurang lebih seminggu yang lalu, saya beserta anak dan isteri jalan-jalan santai 'cari angin'. Saat itulah mata kami tertumbuk pada kerumunan orang, yang akhirnya kami tahu sebagai tempat jualan jagung bakar tepi jalan. Setelah pesan dua buah jagung bakar yang berasa manis, kami berempatpun berjalan pulang sambil ngrokoti 'tongkol panas' yang barusan kami beli. Perut yang semula kosong jadi agak terisi. Rasa kepingin yang tadi menggelegak perlahan terpuaskan. Jagung muda, manis terasa. Kamipun berlalu, tanpa kesan istimewa.
Dua hari kemarin, lagi-lagi kami sekeluarga jalan-jalan santai lewat tempat biasanya, dimana penjual jagung bakar tepi jalan biasa mangkal. Kami yang sejak berangkat tadi sudah sepakat mau beli, tiba-tiba -atas usul isteri, 'kafilah' kami berbelok arah, meneruskan langkah ke penjual jagung bakar lain yang tak jauh dari tempat penjual yang pertama. Kami pesan dua buah dengan rasa manis-pedas. Sekedar melepas rasa penasaran, kira-kira sama apa nggak ya rasanya?. Rasanya ternyata memang beda!. Bahkan bukan itu saja. Para penjual, yang terdiri dari beberapa anak muda itu, serta merta telah membuat saya jadi salut dan bangga pada mereka. Karena tidak seperti pemuda pada umumnya di daerah kami, yang lebih suka hura-hura, ngedrink dan nggenjreng gitar kesana-sini, sembari bergaul bebas laki-perempuan bak di sinetron-sinetron remaja yang menyuguhkan cerita roman picisan, sebaliknya para pemuda penjual jagung bakar itu, yang tak kalah gaul dalam penampilan, malah menunjukkan kematangan, kerja keras, dan profesionalitas. Bagaimana tidak, walau cuma penjual jagung bakar di tepi jalan, dengan lampu temaram di ujung gang, bermodal perapian dan alat panggang sederhana, mereka menunjukkan keseriusan dan detil sikap yang patut diacungi jempol dalam memberikan excellent service kepada para kastamer mereka, termasuk kami sekeluarga. Pelayanan yang super memuaskan telah mereka tunjukkan, sejak kami datang, saat kami menunggu jagung matang, hingga kami pulang. Dalam titik-titik menentukan tersebut, mereka berhasil memukau kami. Dalam hati, tak hentinya saya kagum akan usaha gigih mereka. Mereka tak hanya gaul dalam performa, lebih dari itu, mereka tahu ilmunya, tahu bagaimana cara berdagang dan melayani pelanggan. Dan boleh dikata, mereka tahu bagaimana caranya menjadi beda dibanding para penjual jagung bakar yang lain, hingga sudah pasti sebagaimana kami, tentu para penghobi jagung bakar akan selalu menjadi pelanggan setia mereka, karena kualitas dan kuantitas yang lebih tinggi dari yang biasa-biasa saja.
Inilah beberapa ciri khas yang membuat mereka unik dan benar-benar berbeda.
Pertama, mereka menunjukkan sikap penghargaan yang tinggi kepada kami sebagai pelanggan sejak dari awal. Bertegur sapa dengan cara sopan, menanyakan apa yang kami inginkan, mempersilahkan kami duduk nyaman menunggu. Ini menunjukkan bahwa mereka sadar, bukan semata kami yang butuh mereka, tapi juga sebaliknya.
Kedua, tanpa kami duga mereka memberikan surprise yang membuat hati kami tambah berbunga-bunga. Sembari menunjukkan list menu layanan dan daftar harga di selembar kertas, setelah tahu jumlah pesanan dan jenis rasa yang kami inginkan [kami pesan dua buah dengan rasa manis-pedas], mereka bertanya apa rasa yang kami inginkan untuk satu buah lagi jagung ketiga, yang ternyata mereka sebut sebagai bonus tambahan karena kami beli dua. Dengan senang hati, kami minta rasa coklat, beda dengan pesanan kami yang pertama. Dalam hal ini harus diakui, mereka telah berhasil menambat hati kami, dengan menanam bibit manis simbiosis mutualisme berupa kesan pertama yang begitu menggoda.
Ketiga, cara kerja yang mereka tunjukkan, yang dengan serius selalu saya amati dan perhatikan. Sejak dari cara membakar, membersihkan jagung yang sudah matang dengan kuas, mengolesinya dengan margarin dan perasa manis-pedas serta coklat, membungkus rapinya dalam kantong plastik yang sebelumnya mereka lapisi kertas, sebelum pada akhirnya mereka serahkan kepada kami dengan seulas senyuman.
Terakhir, sebelum kami beranjak pergi, dengan penuh kesungguhan mereka berucap terima kasih karena kami sudah membeli apa yang mereka jual. Terimakasih yang diucapkan berulangkali, juga teriring senyuman yang nampak sebagai rasa syukur mereka kepada Tuhan, yang telah bermurah memberi mereka rezeki halal, dua ribu rupiah dalam waktu kurang lebih lima belas menit yang penuh keringat. Sungguh luar biasa!. Dari mereka, malam itu saya belajar arti melayani, arti kerja keras, arti tanggung-jawab dan pengorbanan. Dari para pemuda tangguh penjual jagung bakar itu, malam itupun saya belajar arti dari upaya menjadi berguna dalam hidup, bagi diri sendiri dan orang lain. Malam itupun saya jadi sadar, salut dan bangga, ternyata masih ada remaja-remaja langka seperti mereka di tengah-tengah kita. Yang tahu bagaimana cara menghabiskan waktu tidak dengan sia-sia. Yang tahu bagaimana cara hidup bermasyarakat dengan etika, bekerja keras dengan sikap profesionalitas. Lebih dari itu, muncul asa menggembirakan dalam hati saya sebagai orangtua dari dua anak yang saat ini sedang tumbuh, bahwa masa kini dan masa depan kita semua, tidaklah sesuram yang tiap hari dirilis media.

11 Desember 2007

take a risk take action!

Kita semua sudah tahu, betapa banyak resiko yang harus kita hadapi dalam hidup.

Tertawa adalah mengambil resiko terlihat bodoh.
Menangis adalah mengambil resiko terlihat sentimentil.
Mengungkapkan perasaan adalah mengambil resiko menunjukkan diri yang sesungguhnya.
Menunjukkan gagasan dan impian anda di depan orang banyak adalah mengambil resiko merasa malu.
Mencintai adalah mengambil resiko tidak dicintai.
Hidup adalah mengambil resiko mati.
Berharap adalah mengambil resiko putus asa.
Berusaha adalah mengambil resiko gagal.
Tapi resiko harus dihadapi.
Karena bahaya terbesar dalam hidup ini adalah justeru ketika kita selalu merasa takut dan tidak mengambil resiko sama sekali.
Orang yang tidak berani menghadapi resiko:

tidak akan melakukan apa-apa,
tidak punya apa-apa
dan
bukan siapa-siapa.

Mereka mungkin menghindari penderitaan dan kesengsaraan,
tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan, mengubah, tumbuh, mencintai atau hidup.
Dalam keadaan terikat oleh kepastian,
mereka adalah para budak.
Mereka telah mengekang kebebasan mereka sendiri.
Hanya orang yang berani mengambil resiko dapat disebut sebagai orang yang bebas.

Insan yang merdeka.

Jadi jangan pernah ragu untuk melangkah.
Ambil resiko sekarang juga!!

06 Desember 2007

makin ngoyo tambah loyo

Bagi anda yang familiar dengan buku-buku bacaan rumpun psikologi terapan bertema motivasi, enterpreneuer dan pengembangan diri, tentu sudah tak asing lagi dengan yang namanya Anthony Robbins. Seorang penulis kenamaan, motivator kelas dunia, contoh hidup sukses, bagi sebagian besar orang yang berkeinginan menjadi 'kapten takdir' diri mereka sendiri. Buku-buku yang ditulisnya rata-rata berpredikat best seller di pasaran, karena menurut sebagian orang yang pernah 'melahap' tuntas buku-buku tersebut, bukan saja di dalamnya terkandung kiat-kiat praktis yang tak hanya simple dan layak diaplikasikan, tapi lebih dari itu kita akan dibuat percaya bahwa sang penulis sendiri, sebelum ia mampu 'menyentuh' dan 'menggerakkan' orang lain, telah lebih dahulu mengamalkan apa-apa yang ia ajarkan. Oleh karena itulah tiap pembaca merasa seolah menemukan beragam cara hebat untuk 'bugar seumur hidup' secara mental maupun emosional. Dan pada titik puncaknya, mereka dihunjam oleh sebuah persepsi baru dalam memandang hidup, mampu menggali potensi terdalam secara optimal, bahkan sampai pada kesimpulan bahwa yang mustahil itu bisa jadi mungkin. Kesimpulan demikian seakan menggambarkan betapa manusia memiliki sebuah 'kuasa tak terbatas', suatu unlimited power, yang meniscayakan dirinya akan selalu mampu mencapai apapun yang diinginkannya dalam hidup, asal saja mereka 'tahu caranya'. Sebuah kesimpulan yang mencerminkan cerahnya harapan, bahwa hidup tak ubahnya tempat sejuk yang hanya terisi 'angin surga'. Hingga tahapan ini, semua tampak luar-biasa. Namun ada hal yang perlu kita cermati dalam persepsi kuasa tak terbatas itu. Yakni, 'tak terbatas' itu dalam realitanya benar-benarkah berlaku mutlak?. Tentu saja tidak, bila kita di sisi lain juga percaya bahwa yang 'tak terbatas' itu hanyalah Dia. Sedang kita, sebaliknya, tunduk penuh pada kehendakNya yang Maha Bijaksana.
Jadi, sungguh baik bila kita mampu bersikap tepat dalam memandang hidup apa adanya, dengan 'hitam-putih' di dalamnya. Tentu saja dengan tidak membuka bebas peluang bercokolnya rasa pesimis yang menghambat laju amal kebajikan dan karya mulia untuk sesama, meski juga tidak membiarkan diri kita larut dalam optimisme tanpa batas, hingga muncul rasa pede yang tanpa kendali. Dengan persepsi yang benar, yang tak bertolak belakang dengan 'pahit-manis' realitas kehidupan, kita akan mampu bertindak proporsional sesuai dengan kapasitas optimal setiap potensi yang kita miliki. Dengan itu pula, jadilah kehidupan kita produktif dan dinamis. Bukan malah makin ngoyo dari hari ke hari, hingga akhirnya tambah loyo pula dari waktu ke waktu. Bagaimana menurut anda?

02 Desember 2007

harta berkah dengan sedekah

Setiap diri kita, bekerja demi mendapat upah guna menyambung hidup, menafkahi anak dan isteri, orangtua dan seluruh anggota keluarga. Hasil yang kita dapat dengan susah-payah, kita kumpulkan sedikit demi sedikit, demi mencapai tujuan yang kita inginkan untuk diri kita sendiri, sebelum demi orang lain. Karena kata agama, apabila selesai kita tunaikan kewajiban bagi kerabat terdekat kita, maka masih ada hak mereka yang berkekurangan di dalam harta kita yang berlebih. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk gemar bersedekah.

Tapi mudahkah urusan yang namanya sedekah itu untuk kita jalankan?. Walau tak mustahil, bagi kita yang belum terbiasa berbagi, urusan bersedekah itu tentu saja bukan persoalan yang gampang. Untuk menyandang predikat ikhlas, kita mesti tekun dan rajin berlatih. Berupaya dalam sebanyak mungkin kesempatan, untuk menyisihkan sebagian milik kita, untuk meringankan beban hidup orang lain, orang-orang yang memang benar-benar membutuhkan bantuan yang dapat kita berikan.

Ada beberapa persepsi yang kurang pas berkenaan dengan sedekah, yang pada akhirnya berakibat pada tertanamnya rasa enggan untuk melakukan acara berbagi kepada sesama ini. Yang paling umum adalah anggapan keliru, bahwa dengan bersedekah itu maka harta kita menjadi berkurang, padahal sesungguhnya, sebaliknya, dengan sedekah harta kita malah akan menjadi berlipat ganda 10 hingga 700 kali lipat jumlahnya. Jadi pertanyaan yang tepat setiap kali kita selesai bersedekah adalah : harta kita 'akan jadi' berapa, bukan 'tinggal' berapa.

Kita juga salah beranggapan bahwa setiap kali kita bersedekah, tiap kali itu pula kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Mengurangi sesuatu milik kita, menambahkan sesuatu buat orang lain yang kita beri. Padahal sebenarnya, saat itu kita sedang berbuat sesuatu untuk diri kita sendiri. Tidak mengurangi harta kita, malah menambahnya.

Hal lain berkenaan dengan sedekah adalah kebiasaan kita mengeluarkan harta kita pada saat kita sedang beroleh keuntungan berlebih, yakni pada saat hati kita sedang diliputi kebahagiaan dan sukacita karena sedang ketiban rejeki yang luar biasa banyak. Pada saat seperti itulah biasanya kita lebih mudah untuk bersedekah. Padahal kita patut bertanya, jika memang demikian kondisinya, lalu dimana letak keistimewaannya? Bukankah memang wajar bila kita dapat dengan mudah beramal pada saat sedang berkelimpahan?. Padahal selayaknya sedekah dilakukan di awal, saat kita jeblok, agar kita beroleh berkah dan anugerah. Bukan di akhir, setelah kita beroleh kelapangan hidup. Ibarat hendak berbisnis, selayaknya kita siapkan modal awal, karena pada hakikatnya sedekah itu adalah bentuk transaksi kita dengan Tuhan Sang Pembalas. Jadi jangan tunggu 'dapat dahulu' baru 'sedekah kemudian'.

Oleh karena itulah, mulai sekarang tengoklah ke kanan-kiri kita, adakah orang-orang yang dapat 'membantu' kita melipat-gandakan harta yang kita miliki?. Adakah orang-orang yang bersedia meringankan tanggungan kita, 'membawakan beban' kita kelak di hari perhitungan?. Jika ada, bersegeralah bersedekah, jangan tunda lagi. Hilangkan keraguan dari hati kita untuk memulai. Pakailah prinsip 6 M. Mengetahui -> Meyakini -> Mengamalkan -> Membuktikan -> Merasakan -> Menceritakan. Dengan kata lain, bila kita sudah mengetahui tentang hal-ihwal sedekah, karena persoalan ini tertera dalam kitab suci yang kita agungkan, maka kitapun patut meyakini kebenaran prinsip-prinsipnya. Pengetahuan dan keyakinan itulah yang hendaknya menjadi dasar kita dalam mengamalkan tindakan bersedekah. Dan apabila itu semua sudah kita jalankan dan kita lewati prosesnya, maka giliran kita menunggu pembuktian janji dari Tuhan akan balasan yang berlipat ganda atas sedekah kita. Pada saat janji itu terbukti, maka pastikan kita dapat merasakannya sepenuh hati, agar pada akhirnya kita dapat menceritakan kepada orang lain yang masih alot untuk bersedekah, untuk segera merubah kebiasaan mereka. Sebaiknya sih saya mulai saja dari diri saya sendiri dulu. Lalu bagaimana dengan anda? Alangkah baiknya bila anda berpikiran sama.

akhir tahun,tahun terakhir?

Begitu cepat waktu berlalu, hampir tanpa terasa. Itulah pendapat sebagian besar dari kita jika ditanya tentang waktu. Terbukti, bahwa kebanyakan orang seakan tak punya kesempatan yang selalu lebih, dalam mewujudkan apa-apa yang sudah direncanakannya, karena satu alasan: tak cukupnya waktu.

Karena alasan yang sama, kita merasa seakan semua hal terjadi begitu cepat, tiba-tiba datangnya, serta-merta perginya. Kita yang merasa seakan baru kemarin menjalani masa kecil, tahu-tahu sekarang sudah punya beberapa anak kecil. Belum sempat kita menghitung hari, tahun malah hampir berganti lagi. Kita hanya ingat Januari yang tahun lalu tiba, tenggelam dalam bulan-bulan setelahnya dalam aneka kesibukan begitu rupa, saat ini tiba-tiba sudah masuk Desember lagi. Belum lama terasa suasana awal tahun, kini tiba masa akhir tahun.
Kita tak punya waktu untuk berdiam merenung, saat segalanya berjalan serba instan. Kita lalai untuk mawas diri, terjebak dalam pertarungan tanpa henti di belantara budaya serba-cepat. Terus bergerak, sebagai upaya untuk tetap mampu bertahan. Siapa yang diam, akan digilas roda zaman, begitu konon kata banyak orang.
Kita semua sering lupa, tak ingat lagi kemana hendak menuju, tak peduli lagi apa yang sebenarnya ingin kita raih, pada saat kita menghabiskan waktu.
Kian cepat kita berlari mengejar, panjang jalan seakan kian bertambah jauh. Beragam keinginan yang belum tergapai, membutakan mata dan hati. Banyaknya tumpukan hasil raihan, ditukar simbah peluh siang-malam, tak juga berujung pada titik kepuasan. Sekali lagi untuk apa? Dan sampai kapan itu semua akan berakhir?.

Di akhir tahun ini, mari sempatkan bertanya, dalam perhentian sejenak. Tidak mungkinkah akhir tahun ini akan pula menjadi tahun terakhir bagi kehidupan kita?. Jika ya, sudah siapkah kita?.

01 Desember 2007

ngorbit apa ngobrit

Belakangan telinga dan otak saya agak kurang sreg tiap kali iklan star-one indosat yang terbaru ditayangkan di tv. Soal penampilan Giring sang vokalis Nidji, yang jadi endorser program yang diiklankan tersebut sih sudah ok. Tapi itu lho. Soal akronim nama program yang terkesan dipaksakan, karena saking terlalu kepleset-nya. Masak 'Ngorbit' diartikan 'Ngobrol irit'. Padahal Ngobrol irit kalau mau disingkat kan mestinya ngobrit, bukan ngorbit. Akhirnya saya jadi mikir, wah masak operator sekelas indosat bisa othak-athik kata tapi sama sekali nggak gathuk kayak gitu. Mungkin saja mereka beralasan, itu kan cuma iklan. Tapi apa memang iya, bahwa iklan itu kesemuanya cuma asal provokasi sugestif tanpa peduli keakuratan isi?. Produk-produk lain kok kayaknya nggak begitu. Malah banyak yang membuat kita sebagai konsumen jadi salut, kok ada-ada saja kreatifitas para pembuat iklan produk perusahaan-perusahaan bonafid itu. Taruhlah sebagai contoh, saingan berat indosat, yakni produk simpati-nya telkomsel. Dari dulu sampai kini masih bisa bertahan dengan iklan-iklan yang nyentrik, tapi tidak bikin risih, nggak ngeganggu kuping dan otak. Bagaimana menurut anda?.

26 November 2007

hamba sebaik-baik hamba

Beberapa waktu yang lalu, saya berada dalam kondisi amat tertekan. Sejenak tercerabut dari kondisi merdeka, yang biasanya, dalam keadaan biasa-biasa saja selalu mampu saya pertahankan. Maklum, masalah yang saya hadapi kali ini, bukan termasuk kategori ringan. Kalau buat saya pribadi, sih, sebenarnya biasa saja. Namun karena hal ini berstatus wajib segera saya bereskan karena ada sangkut-paut erat dengan 'nasib' seluruh anggota keluarga, dimana saya adalah tempat bergantung [dalam makna semu] bagi mereka, maka tampaklah masalah itu sebagai urusan yang agak-agak berbau 'gawat' juga.

Namun untunglah, 'siksa batin' itu tak berlangsung terlalu lama. Meski bukan berarti bahwa masalah itu sudah tuntas dan tertangani dengan baik. Melainkan karena 'kemerdekaan' saya, sudah dapat saya nikmati kembali bak sedia kala, bahkan dalam tingkatan yang 'lebih tinggi' dari semula. Untuk itu, syukur kepada Tuhan, syukur tiada hingga dan henti. Syukur bagiNya yang telah menuntun langkah saya ke tengah kumpulan manusia yang sedang mencari 'pencerahan jiwa'. Di majlis itulah saya dapatkan hal teramat berharga, yakni 'mutiara kehidupan' yang telah mengembalikan status merdeka saya sebagai insan, sebagai hamba Tuhan. Yang oleh sebab itu pula, hati saya kembali lapang menapaki jalan penuh liku ini. Dan karenanya jadi terasa ringan segala beban yang pada awalnya berat terasa. Dalam relung jiwa saya mematri gumam: Tuhan, Engkaulah pemegang ubun-ubunku, pembolak-balik kalbuku, pengendali jiwa-ragaku. Ampunkanlah jiwa lemah yang sekarat dan berkarat ini. Kasihanilah lemahnya raga dalam bakti kepadaMu. Engkaulah satu-satunya tempat bergantung yang kokoh tiada tanding. Hanya kepadaMu jualah mestinya kukembalikan segala urusan, dengan totalitas kepasrahan. Sebab hanya Engkau pulalah yang tahu persis akan akhir segala ihwal.

Dan itulah yang terjadi. Mutiara kehidupan yang saya dapatkan dari tausiyah di majlis para pencari pencerahan jiwa itu telah pula mencerahkan jiwa saya, menghapus gundah, menghancurkan belenggu sangsi, mengembalikan jiwa merdeka.

Disini saya ingin berbagi dengan anda tentangnya, tentang apa sebenarnya mutiara kehidupan yang telah saya dapatkan itu, siapa tahu dapat berguna bila anda pun suatu saat mengalami hal serupa dengan apa yang menimpa diri saya.

Tausiyah perihal kehambaan kita dihadapanNya, dan apa sajakah kriteria yang harus terpenuhi bila kita ingin menjadi Khiyarul 'Ibad, 'sebaik-baik hamba'. Yaitu:

1. Ida Ahsanu Istabsaru.
Sebaik-baik hamba adalah pribadi yang dekat dengan kebaikan, senang dengan perbuatan baik, gemar melakukan kebajikan. Kebahagiaan dan sukacitanya adalah saat ia mampu berkesinambungan berbuat baik dan senantiasa berada dalam kebaikan.

2. Wa Ida Asra'u Istaghfaru.
Sebaik-baik hamba adalah mereka yang mudah 'layu', merasa tak berharga, menyesal teramat dalam, pada saat tergelincir pada perbuatan-perbuatan buruk, lalu bersegera untuk istighfar memohon ampunanNya, dan tak lupa pula dengan cepat merubah perbuatan buruk itu dan mengikutinya dengan perbuatan baik kembali.

3. Wa Ida Uktu Syakaru.
Sebaik-baik hamba adalah hamba yang pandai bersyukur atas segala anugerah. Karena ia sadar bahwa apapun yang ia dapatkan dalam hidup ini, tak satupun yang bukan anugerah dariNya.

4. Wa Idabtulu Shabaru.
Sebaik-baik hamba adalah manusia-manusia yang apabila datang kepadanya ujian dan cobaan hidup, mereka tetap mampu bersabar. Sebaik-baik hamba saat diuji pasti tegar dan tabah. Tak akan pernah mengeluh, sebaliknya mampu menerima dengan keikhlasan dan lapang dada.

5. Wa Ida Ghadibu Afau.
Sebaik-baik hamba, pada saat diusik emosinya, direndahkan gengsinya, dihujat harga diri, ego dan ananisme keakuannya, senantiasa mampu memegang kendali dirinya, tetap tenang dan damai, tak terpancing untuk melakukan sesuatu perbuatan dan tingkah laku yang melampaui batas.

Itulah 5 kriteria hamba yang baik, sebaik-baik hamba. Saya berharap semoga Tuhan mengaruniakan kekuatan bagi kita untuk mencapai predikat mulia ini. Agar kita merdeka selalu dan bahagia senantiasa.

25 November 2007

bukan manusia biasa

Orang-orang luar biasa,orang-orang baru yang sebelumnya tak pernah kita kenal, biasanya dikirim Tuhan buat kita, tanpa kita sadari dan pernah bayangkan sebelumnya, pada saat kita sedang ditimpa kesulitan yang teramat mendesak. Dengan kehadiran mereka Tuhan 'menyapa', memaklumatkan suatu kenyataan bahwa di dunia ini kita tidak hidup 'sendiri' dan tidak pula dalam keadaan yang benar-benar 'mandiri'. Kita semua sebagai manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain. Dan lebih dari itu semua, Tuhan hendak menyadarkan kita bahwa kesulitan hidup yang hadir itu merupakan pertanda, bahwa pengendali kehidupan kita bukanlah diri kita sendiri. Karena jika kehidupan itu corak-warnanya dapat kuasa dan leluasa kita tentukan sesuai keinginan dan selera kita, maka sudah pasti, kita tak akan pernah mau menerima datangnya kesulitan-kesulitan di dalamnya. Yang kita mau pastilah kemudahan-kemudahan yang semata membahagiakan. Yang kita suka pastilah jalan lapang tanpa aral, bukan berliku penuh onak dan duri. Itulah sifat alami kita yang sangat manusiawi: cinta pada kenikmatan-kenikmatan hidup, benci pada derita-derita yang sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan juga adanya.
Sudah merupakan 'sunnatullah' bahwa hidup itu tak ubahnya sekeping mata uang dengan dua sisi yang tak mungkin dipisahkan. Demikian pula dua sisi kehidupan, yang tak mungkin kita elakkan, seharusnya dapat kita sikapi dengan bijak dan disertai keikhlasan.

Bila suatu saat kita dihadapkan pada sukacita, saat itulah kita mesti bersyukur. Dan bila pada saat yang lain kita mengalami kesulitan dan dukacita, saat itulah waktu bagi kita untuk tabah dan bersabar.

Andaikan kita punya waktu yang cukup untuk bertanya kepada semua manusia yang saat ini ada, apakah selama hidup mereka, pernah datang kesulitan dan dukacita kepadanya, maka saya yakin, hampir mustahil mereka akan menjawab tidak pernah.

Tapi andaikata dapat anda temukan 1-2 orang atau lebih yang mengatakan bahwa selama kehidupannya tak sekalipun pernah dihinggapi kesulitan, maka hanya ada dua kemungkinan kondisi yang dapat kita kenakan kepada orang-orang semacam itu. Pertama, kita patut sangsi akan derajat 'kewarasan' dan kejujurannya. Kedua, kita patut salut akan derajat 'kehambaan'-nya. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa diantara kita memang tak mustahil ada pribadi-pribadi 'mumpuni' yang menganggap hidup tak ubahnya hanya sebuah 'permainan' singkat belaka. Sehingga bagi orang-orang semacam itu, dalam pandangan mereka segala yang terjadi seluruhnya adalah mutlak 'anugerah'. Jadi tidak ada sebenarnya dalam kehidupan itu sesuatu yang dapat dianggap secara hakiki sebagai 'kesulitan' dan 'dukacita'.

Dalam hidup anda, pernahkah anda rasakan kehadiran orang-orang semacam itu?. Bila anda pernah bertemu, jadikanlah mereka sebagai sahabat sejati. Karena biasanya, mereka akan setara mengasihi anda, sebagaimana mereka mengasihi diri mereka sendiri.
Bagi anda yang belum pernah bertemu, bersabarlah. Kelak, entah kapan, Tuhan pasti akan mengirimkan orang-orang semacam itu dalam kehidupan anda, asal anda mau terus mencari.

ya ilahi lagu islami


Khusus bagi anda yang mungkin belum pernah terdampar ke fasilitas punya YouTube. Berikut saya antar anda untuk menikmati sebuah lagu merdu dari negeri nun jauh disana.
Siapa tahu dapat menjadi pengobat tegang jiwa, menuju damai hati? Silahkan anda klik linknya:


Dengan melakukan satu langkah mudah, anda juga akan menemukan lagu-lagu lain yang senada, yang tak terhingga jumlahnya. Bahkan bukan cuma lagu, tapi hampir apapun yang anda ingin cari, tersaji dalam berbagai format audio visual. Semudah menggunakan search engine di Google. Namun anda juga perlu tetap mawas diri, untuk tidak terbujuk menghabiskan waktu anda yang merupakan amanah Tuhan buat kita, menyaksikan sesuatu yang tidak benar-benar mendatangkan manfaat, tapi malah menggugah syahwat.
Selamat menjelajah, semoga selamat sampai di tujuan.

putih biru lima waktu


Ini baru Shubuh, Ya Allah
Dua kelopak mataku baru saja terbuka
Namun dosa dari gerak hati
Membuka jalan bagi awal langkahku hari ini
Sujud & Do'aku, Ya Allah
Butuh siraman ampunan & kasih sayangMu
Atas pusaran segala niatan

Ini baru Zuhur, Ya Allah
Bekas sujud di keningku
Air wudhu di wajahku, belum lagi lama hilang bekas
Namun dosa dari gerak lidah
Memberatkan punggungku dengan beban
Sujud & Do'aku, Ya Allah
Butuh curahan perkenan & keluasan maafMu
Atas ketergelinciran lisan
Ini baru Ashar, Ya Allah
Perjalanan hari 3/4 terlewati
Kepenatan tubuh yang haus & lelah mulai terasa
Namun nafsu yang bersemayam dalam dada
Tak pernah berhenti melecutkan semangat mendera
Menarik langkah dan seluruh diriku pada nista
Tak pernah henti, tak pernah mati
Sujud & Do'aku, Ya Allah
Butuh perisai perlindungan & penjagaan mutlakMu
Atas bara, nyala syahwat syaithani

Ini baru Maghrib, Ya Allah
Matahari Timur beralih ke Barat
Senja hilang, berganti malam
Peralihan waktu memasuki tahapnya
Dari terang pada kegelapan
Namun dosa dari pengingkaranku
Seakan bertemu tempat berlindung yang aman
Dari keramaian manusia siang
Pada kesendirian malam
Rasa bebasku dari tatapan penilaian, beruntun datang
Sujud & Do'aku, Ya Allah
Butuh penghapusan dan pengabaianMu atas dosa
Bagi rintihan taubatku

Ini baru Isya', Ya Allah
Seharian jatuh-bangunku dalam kerja, sujud dan do'a
Akan ditelan gulita, ditutup lelap mataku
Namun dalam diam fisikku
Kembaraku tak pernah berhenti
Berputar bak gasing
Bersama unsur alam & kehidupan
Sujud & Do'aku, Ya Allah
Akankah bertemu hari baru
Ataukah terhenti hingga di ujung malam
Hanya kepada Engkau
Hanya kepada diriMu saja, Ya Allah
Pemilik pasti segala maujud
Ada & Tiada
Ujung & Pangkal
Datang & Pergi
Hanya kepadaMu
Semua akan kembali

don't worry be happy

Bila Tuhan sudah memutuskan bahwa memang tak lagi ada harapan dan jalan keluar terhadap permasalahan yang menimpa kita, sulitkah bagiNya untuk sesegera mungkin membuat hidup kita berakhir dengan kematian? Mungkinkah Tuhan menakdirkan kesia-sia-an untuk kita jalani? Tuhan yang Maha Sempurna, mustahil berbuat sia-sia.
Bila kita tetap hidup, percayalah bahwa Tuhan memang menghendaki kita untuk tetap bertahan. Bila kita gagal setelah kita benar-benar berupaya optimal dengan kesungguhan dan niat baik, maka percayalah, bahwa Tuhan yang Maha Bijak & Penyayang adalah pemilik mutlak Pengampunan.
Tuhan, telah memberi kita segalanya. Ada yang sebagian kecil memang kita minta, namun sebagian besarnya, kita diberi tanpa perlu meminta. Ada yang sebagian kecil memang menuntut pengorbanan & jerih payah kita untuk mendapatkannya, namun sebagian besarnya diberikan Tuhan tanpa harus kita upayakan.
Mengapa kita masih bersikeras menyatakan bahwa hidup begitu sulit untuk dijalani?.
Berkacalah pada hati. Apakah yang bisa kita ragukan dari keajaiban sebuah hati?. Berpuluh tahun kita hidup, berpuluh kali kita merasakan 'kehancuran'. Namun tak ada yang berubah dengan hati. Karena betapapun seringnya hati merasa sakit, ada waktunya hati kembali menjadi sembuh.
Hati kita, sesungguhnya memang tak akan pernah benar-benar hancur. Karena hati adalah penghubung kita dengan Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan akan benar-benar tega menghancurkannya?.
Maka bermurah hatilah, agar Tuhan memberi kita jalan kemudahan dalam meraih banyak hal yang kita inginkan.
Maka bermurah hatilah, bermurah hatilah untuk berbagi.
Bila kita sudah merasa tak mampu & tak mungkin percaya lagi kepada setiap orang, bertahanlah untuk tetap percaya kepada Tuhan. Karena hanya Dia yang tahu, kapan waktu bagi kita untuk hidup, dan kapan batas akhir hidup kita harus berhenti.
Mengakui kelemahan kita dihadapanNya adalah sebuah wujud kearifan yang selayaknya. Karena dengan itulah kita siap menerima setiap jalan yang telah Dia gariskan untuk kita jalani.
Tuhan tidak suka bila kita selalu merasa kuat, karena kekuatan yang sesungguhnya hanyalah milikNya.
Tuhan akan membantu kita kapan dan dimanapun kita butuhkan, meskipun dengan cara yang yang tidak selalu dapat kita pahami sebelumnya.
Inilah yang membuat kita tak pernah tahu sepenuhnya kapan waktunya permasalahan kita akan berakhir, dan dengan cara bagaimana Tuhan akan menyelesaikan dan menuntaskannya.
Tuhan hanya memberitahu kita melalui banyak pertanda yang mampu menuntun & mengarahkan kita pada peneguhan keyakinan.
Melalui ragam warna kehidupan, seakan Tuhan berbicara kepada kita bahwa tiap segala yang berawal, maka pasti akan memiliki akhir, kecuali Dia yang Tak Berawal dan Tak Berakhir.
Segala yang ada berjalan ke satu arah. Semua yang maujud berpusat pada satu kekuatan besar maha dahsyat, yaitu Tuhan.
DariNya segala yang ada datang dan kepadaNya pula segala yang ada akan kembali.
Karena itu percayalah. Bila suatu saat kita merasa letih dan lemah didera beruntun masalah, selama kita berlapang-hati untuk meminta jalan pertolongan kepada Tuhan, maka pasti Tuhan akan menolong kita.
Mengapa kita ragu akan kasih sayangNya yang tiada batas? Apakah kita merasa bahwa diri kita dan segala yang diberikanNya kepada kita adalah hasil upaya dan milik kita sepenuhnya?
Jika penciptaan kita hanya untuk kesia-sia-an dan hal biasa tanpa keistimewaan, maka bukankah ujian, pahala & balasan akan menjadi tiada guna?.
Dalam setiap keadaan, dengan jelas Tuhan menawarkan kepada kita dua jalan pilihan untuk kita pilih. Yakni jalan 'hitam' dan 'putih' yang saling berseberangan satu sama lain.
Itulah alasan kenapa Neraka dan Surga harus ada.
Dengan berbagai ujian dunia, Tuhan ingin mengajari kita, betapa banyak hal besar yang semestinya kita lakukan, tanpa harus menghiraukan betapa banyak rintangan untuk melewatinya. Sedang hal-hal kecil selebihnya, yang biasanya kita anggap sebagai kesulitan, sudah selayaknya mampu kita lupakan. Anggap saja itu sebagai 'bumbu' kehidupan.

22 November 2007

keep iman la tahzan

Buat kita yang sudah nggak bujang lagi, kehadiran seorang istri merupakan sebuah karunia yang patut disyukuri. Dalam segala kondisi susah dan senang, minimal ada tempat buat curhat. Yang dengan itu semua, jadi ringan beban pikiran dari beratnya tumpukan musibat dunia yang bergelayut di hadapan kita.
Pendamping hidup, belahan jiwa, sebagaimana karunia lain yang kesemuanya merupakan amanah Tuhan buat kita, alangkah bijaknya bila kita senantiasa berupaya menjaganya dengan baik. Menjaga raga dan jiwanya agar tak terkontaminasi pengaruh awan pekat isme-isme menyimpang, atas nama feminisme, kesetaraan gender, dan lainnya, yang sebagian besarnya dari sisi konsep tampak gemerlap di luar, namun sesungguhnya, bila itu diletakkan pada jalur di luar garis ilahi yang sudah baku sesuai kaidah iman keberagamaan kita, pada gilirannya dapat memunahkan kekuatan dan kesucian ikatan ilahiah ini dalam perjalanannya.
Di sekitar dapat kita saksikan betapa banyaknya fenomena rumahtangga yang rapuh dan pada akhirnya hancur berkeping karena dibangun atas dasar yang goyah sedari awal. Yang mana pernikahan, bagi sebagian orang tidak lebih hanya sekedar institusi alternatif yang legal di mata hukum, bagi penyelesaian tuntutan nafsu yang menggebu. Maka pondasi yang dibangun atas spirit 'non-ukhrawi' tersebut pun, dalam kurun waktu relatif singkat, tidaklah imun dari terpaan badai kehidupan yang datang dan pergi. Dan pada titik akhirnya, kebanyakan berujung pada kata pisah ranjang, pisah rumah, dan keputusan final di pengadilan agama.
Buntut dari permasalahan itupun kian panjang bila diantara mereka ternyata telah ada sang buah hati. Dari soal perebutan hak asuh hingga hitung-hitungan harta gono-gini, carut-marut petaka inipun seakan tiada akhir. Melelahkan raga, menyiksa jiwa.
Buat kita yang tetap tegar, bersyukurlah dalam-dalam. Karena sesungguhnya bukanlah hal mudah bertahan dalam gelombang hidup masa kini, bila tiada 'sentuhan' TanganNya di sepanjang waktu-waktu milik kita. Seiring berjalannya waktu, dan kehadiran beragam peristiwa dan cobaan, bukanlah hal yang ringan menanggungkan duka-nestapa hidup dalam kasih sayang dan cinta yang tetap mampu terjaga.

Bagi kita yang menganggap bahtera rumah-tangga tak ubahnya biduk yang harus tetap melaju, berlayar terombang-ambingkan angin kehidupan hingga ke tujuan akhirnya, sungguh dibutuhkan kemudi jiwa yang teguh saat tantangan demi tantangan harus dilalui. Inilah sekolah kehidupan yang tak mengenal batas kelulusan kecuali hingga kita kembali pulang kepadaNya.

Lembaga suci itu, yang telah melahirkan ketenteram dan damai jiwa bagi kita, haruslah mampu kita menej sedemikian rupa, dengan berbagai perangkat yang kita miliki. Bila kita mampu tetap bertahan, keep iman, la tahzan, dalam jalur tuntunan agama kita, dengan upaya insaniah dan kebergantungan ilahiah yang tak pernah terputus seiring tarikan nafas kita, siapa tahu, kebahagiaan hakiki yang sesungguhnya kita dambakan itu, bukanlah hal yang sulit untuk kita raih dan nikmati bersama belahan jiwa hingga hanya maut-lah yang dapat memisahkannya.

Ya. Siapa yang tahu pasti apa yang akan terjadi. Namun bila kita sudah banyak berupaya dalam beragam langkah, saatnyalah kita berpasrah. Bukankah begitu?

21 November 2007

ruang nol ruang rindu

Pernahkah anda mengalami hal-hal mengejutkan 'tumplek-blek' dalam satu waktu, dalam satu hari yang sama, dalam saat beruntun yang hanya terpaut sekian menit?. Saya 75% yakin bahwa kita semua sudah tentu pernah mengalaminya. Bila hal 'mengejutkan' itu berupa kabar baik, sudah barang tentu dada kita akan bertabur rasa syukur dan bunga-bunga bahagia. Bagaimana bila yang terjadi adalah sebaliknya?. Maka tentu, dada yang sama yang kita punya, yang semula cerah tak berawan, dalam sekejap akan beralih ke kondisi sesak bak terisi penuh polusi pekat jalanan yang padat, berbalik 360 derajat sontak-serentak bak digelayuti mendung hitam menggantung. Dihadapkan pada hal dan kondisi yang sama, benarkah akan selalu demikian reaksi dan keadaannya bagi setiap diri kita?. Dalam berhadapan dengan suka-duka, seragamkah manusia mengulas senyum berbuah tawa, atau dalam hal bermuka masam berbuah urai linang airmata?. Bukankah Tuhan telah bermurah kepada kita, dengan memberikan sebentuk perangkat hati yang sama?. Lalu apa sebenarnya yang membuat kita, satu sama lain bereaksi terhadap banyak situasi dengan cara yang berbeda-beda?.
Untuk banyak pertanyaan itu, saya ada beberapa ilustrasi situasi yang mungkin dapat menjadi pengantar bagi jawaban-jawaban yang bisa muncul beragam.

Situasi 1:

Anda belum genap sebulan lulus kuliah. Saat teman-teman yang lain sibuk bersiap merancang-genapkan 'tetek-bengek' hal-ihwal lamaran kerja untuk ditenteng kesana-kemari ke pintu-pintu perusahaan besar [yang sebagian besar juga] berlabel 'tak ada lowongan' dengan huruf kapital tebal-tebal berukuran besar, tanpa dinyana tanpa terduga, anda yang lagi santai sedang surfing sambil dengar musik melankolis dari laptop anda, kedatangan tawaran dari rekan kerja papa anda yang butuh tenaga dan keahlian persis seperti yang anda punya. Tanpa harus ribet dengan urusan administratif dan lain sebagainya, anda dipersilahkan untuk mengisi posisi kosong di kantornya yang bonafid dan ternama itu sesegera mungkin, dengan lamaran kerja sekedar formalitas, itupun bisa disusulkan belakangan, kapanpun anda sempat membuatnya. Di sisi lain, karena sudah sejak tengah semester anda 'jadian' dengan si jantung hati, arah ke pelaminan-pun sudah kian dekat pula waktunya, terlebih setelah anda dan si dia sudah sama-sama lewati jenjang S-2. Pas di hari yang sama kabar bagus itu datang, dalam kesempatan pertama anda call sang dara pujaan, eh nggak tahunya dia malah ngabari hal yang lebih spektakuler dari apa yang anda alami: sebuah perusahaan konglomerasi yang sedang buka anak perusahaan di daerahnya, memintanya untuk menjadi kepala cabang. Hanya dari berita koran yang memuat profil dan prestasi summa cum laude-nya, si dia pun bebas tentukan gaji berapa dia mau, plus mobil dinas, plus rumah dinas, plus plus-plus yang lain. Menilik situasi ini, sudah terbayang atau belum di benak anda, akan 'macam mana' reaksi-reaksi yang mungkin timbul, bila kita dihadapkan pada situasi semacam itu?.

Situasi 2:

Anda sudah tak muda lagi. Pernikahan anda sudah berjalan kurang-lebih 10 tahun. Dengan 1 orang istri, 2 orang anak yang masih belia, ibu dan mbah mertua lansia, gaji anda hanya 'transit singkat' dan 'ngendon sejenak' di Bank, untuk selanjutnya anda 'kuras habis' via ATM buat bayar tagihan ini-itu. 'Ajaib'-nya lagi, itupun masih tak cukup buat mengantar anda ke kondisi benar-benar 'merdeka' dari yang namanya 'hantu' hutang. Dalam kondisi tanpa pernah ada 'libur' yang sebenarnya dapat anda nikmati, karena justru pada saat hari libur anda di kantor sebagai karyawan kontrak, seakan itulah waktu anda bersimbah peluh sesungguhnya di jajaran para pengais nafkah, beban anda masih ditambah dengan 'amal-kebajikan' dan 'balas-budi' bagi kedua ortu anda dengan membayarkan aneka macam keperluan sekolah adik anda yang semata wayang, karena ayah anda sudah tak optimal lagi dapat mengisi pundi-pundi anggaran rumah-tangga mereka. Belum lagi biaya 'ekstra' yang terkadang harus muncul tiba-tiba pada saat penyakit lama ibu anda kambuh dan kambuh lagi.
Dalam kondisi ini, bukannya anda tak berupaya maksimal dalam mencoba aneka cara dan trik dalam meng-create 'usaha sampingan' itu. Anda boleh dikata malah hampir mencoba semuanya, dari mulai jualan susu eceran kemasan plastik berkeliling dari kampung hingga ke perumahan, bahkan hingga jadi wartawan freelance di sebuah media regional. Membuka kios aneka macam majalah, komik dan buku juga pernah. Buka warnet dan rental komputer, hingga menjadi pengrajin meja lipat multifungsi dan menjualnya dengan sistem 'ider' dari toko ke toko pun tak ketinggalan pula. Jatuh-bangun, jatuh lagi berulangkali, hingga tak mampu bangun lagi. Tenaga dan biaya sudah kepalang berhamburan, namun hasil memuaskan yang mampu bebaskan jerat hutang, entah kapan bisa dirasa. Sudah sekian puasa dan lebaran, nikmat dan khidmatnya seakan berlalu hambar tanpa makna. Bukan sekali dua kali, para debt collector datang dengan tampang geram, dalam waktu sehari, hanya berselang menit. Belum lagi pintu ditutup, sudah harus dibuka lagi. Belum lagi 'ngenes' yang tadi pupus, harus dihunjam lagi dengan rudal-rudal penggundah lainnya. Belum lagi surat peringatan yang satu disakukan, datang menyusul surat pernyataan 'sanggup menerima sangsi apapun' harus ditanda-tangani. Pun pada saat para penagih pergi, giliran tetangga kanan-kiri kasak-kusuk berkerumun dekat rumah: simpati, belas kasihan, cercaan dan 'rasan-rasan', bercampur jadi satu. Duh Gusti!, kiranya sudah cukuplah deretan derita ini. Anda pun mungkin sudah tak perlu gambaran situasi tambahan lagi. Karena sudah cukuplah 2 kata: Capee' deeeh..

Berhadapan dengan 2 kontras situasi macam itu, sikap macam mana yang anda akan pilih?. Salah satunya mungkin saja anda alami, atau keduanya malah sebenarnya kejadian yang terjadi berurutan, dari situasi 1 ke situasi 2.

Setiap diri kita tentu punya 'pakem' yang beda, karena ketidak-samaan latar belakang keluarga, lingkungan, kondisi, pendidikan,dan sebagainya, yang sedikit banyak membentuk cara pandang dan persepsi atas banyak hal dalam hidup. Meski kemungkinan besar juga punya kesetaraan yang alami dan manusiawi, sebagai sesama hamba dari Yang Satu.

Lalu apa hubungannya semua ini dengan Ruang Nol Ruang Rindu?. Sikap dan jawaban yang mungkin anda ambil memang tak ada hubungannya dengan itu. Kecuali bila anda pun, seperti saya, juga punya apa yang namanya Ruang Nol Ruang Rindu itu.

Ya.Ruang Nol adalah ruang yang tiap saat, dalam tahun-tahun belakangan ini, juga sekaligus menjadi Ruang [yang paling saya] Rindu[kan]. Ruang ini sebenarnya punya cerita unik tersendiri. Keberadaannya sama sekali tak saya rancang dengan sengaja dari awal. Tapi toh Ruang itu muncul di rumah saya. Saya mohon maaf bila akhirnya anda jadi kepingin tahu, gimana awal kemunculannya. he...he....he

Begini ceritanya:

Berawal dari keinginan besar saya untuk memperkenalkan dan 'mematri' angka-angka dalam ingatan putra kedua saya yang masih berusia 2 setengah tahun, saya buatkan secarik kertas persegi dengan beragam angka di tengahnya, sebagai awal, karena tak ingin membuat memori rekamnya bingung dalam mengingat, saya buat 5 lembar saja. Kertas itu lalu saya tempel acak di seluruh ruang yang ada di rumah, eh koq kebetulan, tanpa saya pernah menghitung sebelumnya jumlah ruang di rumah sejak rumah itu berdiri, ternyata pas ada 5 jumlah ruangnya. Angka nol di ruang depan, berurutan masing-masing angka 1 di kamar tidur utama, angka 2 di ruang makan, angka 3 di ruang keluarga[anak saya menyebutnya ruang tv], angka 4 di kamar tidur mertua, dan angka 5 di kamar mandi.
Maka jadilah hal ini sebagai tambahan permainan baru antara saya dan putra kedua saya itu tiap saya ada di rumah. Main tebak angka secara bergantian. Kadang saya yang tunjuk angka, putra saya yang menyebutkan itu angka berapa, sambil membawanya berkeliling memasuki ruang satu ke ruang lain secara berurutan dari ruang depan hingga ke kamar mandi. Kadang sebaliknya, ketika kami tiduran di kasur, putra saya yang masih imut itu bertanya layaknya guru penguji, angka nol ada di mana, di kamar tidur angka berapa, dekat meja makan, tv-an, kamar emak, dan terakhir jedhing[istilah nama ruang ini belakangan ia bikin sendiri sesuai selera dan kosa katanya], angka berapa saja sesuai penyebutan ruangnya, harus saya sebutkan satu persatu. Tiap saya sebutkan angka yang dia minta, dia ketawa lucu, terdengar renyah di telinga dan geli di hati.
Begitulah hari berganti. Belakangan saya sadari, kegiatan 'kecil' itu membawa angin baru buat kehidupan saya sehari-hari. Entah bagaimana perasaan putra kecil saya, saya tak tahu-menahu.
Ternyata angka nol itu tepat berada di ruang depan, yang notabene adalah tempat dimana saya dan istri saya melakukan 'mi'raj ruhani'. Maka jadilah ruang itu memiliki makna tersendiri bagi sudut hati saya, tatkala tiap hendak menuju kesana, pada saat paling awal saya pasti bersitatap dengan angka nol yang tertempel di tembok di sisi tepat lurus dengan pintu masuknya berada. Dan setiap angka nol itu tampak, saya jadi sadar bahwa sebelum masuk ke ruang itu, jiwa saya harus benar-benar berada di 'titik nol' total. Benar-benar nol dari hiruk-pikuk luaran, dan remeh-temeh beban duniawi yang sepintas memang tampak 'menyengsarakan' itu. Dari situlah muncul semangat baru di rongga dada saya: apapun yang telah, sedang, maupun yang masih bakal terjadi, harus saya pasrahkan total kepadaNya, bila saya selesai berupaya dengan sekuat tenaga, biaya, pikiran dan waktu saya.

Begitulah ruang nol itu menjadi ruang yang senantiasa saya rindukan kala gundah datang menyapa, saat kegamangan hidup muncul tanpa permisi, saat waktu-waktu mi'raj ruhani datang diantara berlalunya hari.

Di ruang nol itulah saya temukan jati diri saya yang sesungguhnya 'hamba'. Sedang Dia Sang Pemilik Kebajikan, takkan pernah berbuat aniaya kepada para kekasihNya. Maka apapun yang terjadi, terjadilah. Karena semua yang berlaku dalam realita, pastilah 'yang terbaik' buat kita.

Bagaimana menurut anda? Apakah anda setuju?.

18 November 2007

nggak posting bikin pusing

Ah!, lama nggak posting ternyata tambah bikin pusing. Awalnya sih niat nikmati jeda irama hidup yang satu rupa, sekalian refresh isi kepala dengan beragam gagasan baru yang nantinya bisa dibagi-bagi buat sesama insan merdeka. Nggak tahunya, kejadian-kejadian beragam di sekeliling yang datang belakangan, dengan nilai berita yang istimewa, sungguh sayang bila harus berlalu tanpa sedikitpun terekam jejaknya. Maka mulailah rasa 'gatal' menjalar di jari-jemari, hawa hangat merasuk di batok kepala, gejala kangen berat buat nulis dan nulis lagi.

Mencermati tanda-tanda zaman, sesekali perlu buat kita lakukan. Setidaknya biar kita tak terlepas dari ikatan masa, saat mana kita menjadi saksi hidup aneka peristiwa. Diam tanpa berbuat apa-apa, kok kayaknya terasa 'dosa'. Bukankah masing-masing kita pada dasarnya adalah pembagi berita pada zaman kita hidup?. Kitalah pelaku sejarah, yang bertanggungjawab tak melewatkan seharipun waktu berlalu tanpa cerita. Hari ini yang tak bermakna, akan segera menjadi masa lalu yang hilang arti, bila kita tak mampu menghiasinya dengan sepenggal sumbangsih nyata yang berguna bagi sesama. Sebagai insan merdeka, masih dapatkah disebut berarti, bila kita menjalani hidup yang tanpa guna?.

26 Agustus 2007

pilih marah atau ramah

Sebagai seorang ayah untuk dua orang anak yang lucu-lucu, saya teramat bersyukur. Meski terkadang (tepatnya: seringkali) kelucuan itu beralih menjadi kegaduhan yang teramat riuh di rumah, bila keduanya saling berebut sesuatu. Seketika tawa beralih tangis, saat guyonan jadi jotosan. Menilik usia yang terpaut jauh, kakak beradik ini hemat saya sungguh tak patut beradu otot, tapi namanya juga anak-anak, apa mau dikata. Begitulah ketenangan di rumah hanya bisa dirasa bila si kakak pergi sekolah, sedang sang adik asyik bermain sendiri (kalau lagi libur kerja, kadang saya temani) dengan barang-barang miliknya.
Tapi nggak berarti semua sudah jadi baik-baik saja. Biar tak lagi rame, ada-ada saja keribetan lain akibat tingkah polah si kecil. Mulai dari ngompol di karpet atau lantai rumah (seringkali di kasur), sampai masalah mulut, tangan, kaki dan baju yang belepotan tanah. Belum lagi kalau lagi ngambek, bunga bagus-bagus yang sudah lama terawat, dalam sekejap tanpa saya sadari, sudah banyak yang patah daun dan berserak tangkainya.
Tapi dalam kondisi macam apapun, saya dari awal sudah menentukan pilihan : untuk tidak marah, malah sebaliknya tetap jadi ramah saat berhadapan dengan 'ulah' kedua buah hati saya itu. Disamping nggak tega melihat muka tanpa dosa itu beralih rona, saya juga tahu bahwa memang sudah tugas saya menjaga dengan sebaik mungkin dua 'amanah' Tuhan yang teramat berharga itu. Pendeknya, saya nggak ingin kedua hati di dada mereka jadi tergores 'luka' walau sekecil apapun. Karena boleh jadi, bila itu terlanjur terjadi, maka 'bekas'-nya tak akan mudah terhapuskan.
Sebagai sesama orang tua, Anda pasti tahu, betapa kasih-sayang teramat dalamlah yang menjadi motivasi terkuat tindakan kita terhadap anak-anak kita. Itu semua menentukan jenis tindakan yang kita ambil sebagai pilihan, saat keadaan menjadi 'kacau' dan seakan tak terkendali (padahal sebenarnya kitalah yang menjadi penentu apa yang seharusnya terjadi, bukan sebaliknya, malah kita yang diombang-ambingkan kondisi-kondisi yang terjadi di luar diri kita). Kita adalah pencipta suasana kita sendiri, kapan dan dimanapun. Terutama pada saat kita menemani buah hati kita, di rumah tempat kita berkumpul bersama keluarga tercinta.
Sudah saya buktikan, bahwa tak ada hal yang sulit dalam memilih dua reaksi yang saling berlawanan: apakah kita mau marah, ataukah pilih ramah. Meski keduanya memiliki kemungkinan sama besar untuk terjadi, tetap kita sendirilah pengambil keputusan terakhirnya.
Namun bila bagi anda, hal ini masih terasa tak semudah itu, mungkin perlu saya bagi tips dan triknya. Sederhana (mudah anda terapkan), fleksibel (bisa sesuka hati anda modifikasi sesuaikan kondisi).
Pertama, tetapkan sebuah pilihan (untuk ramah, tidak marah) lalu lakukan dengan konsisten (tetap ramah, apapun yang terjadi tak akan jadi marah). Kedua, saat berhadapan dengan anak-anak kita, tataplah lebih dekat wajah 'innocence' dan 'cute' itu. Anggaplah itu sebagai anugerah utama Tuhan yang 'terbesar' bagi kehidupan anda. Sementara ulah-ulah 'nyeleneh' yang tak terhitung banyaknya itu jadikan layaknya 'bonus' gratis tambahan bagi 'ibadah' anda dalam tugas mulia mendidik anak-anak kita. Ketiga, tetaplah fokus pada rasa syukur, bukan pada keluhan tiada arti. Hal ini akan dapat anda lakukan, bila anda sadar betul arti kesehatan jiwa yang signifikan pengaruhnya pada kebugaran fisik kita. Karena syukur itu (tak ubahnya ramah dan sabar) menciptakan kondisi rileks, sebaliknya sumpah-serapah dan keluhan (layaknya kemarahan) dapat menimbulkan ketegangan yang menguras pikiran dan tenaga.
Begitulah saya sudah sedari dulu memilih. Dan mulai saat ini, ganti giliran anda.
Mari terus belajar, merdekakan diri dari belenggu kemarahan. Raih kebahagiaan dari hal-hal kecil (tapi indah) yang terjadi, datang dan pergi dalam keseharian kita.

20 Agustus 2007

hati-hati dengan hati

Sudah hampir seminggu saya dihinggapi sakit batuk. Saya enjoy aja. Pikir saya, mungkin memang sudah waktunya batuk. Dengan batuk itu jadi bersih organ dalam saya dari kerak dan lendir kotor.
Eh, ternyata lebih dari itu manfaat batuk buat saya. Seperti malam-malam sebelumnya, batuk membuat saya tiba-tiba terbangun tengah malam saat yang lain lelap terbujur[anda mungkin malah mendengkur. he he he]. Dan disaat seperti itu saya bisa saksikan 'alam raya' yang ada di dalam diri saya.
Begitupun subuh tadi, batuk juga yang membangunkan saya dari lena. Saya tengok jam di dinding, masih pukul empat. Antara tidur dan jaga seakan terdengar suara dari kejauhan, lamat namun nyata terdengar jelas: "hati tak ubahnya pemimpin dan penunjuk jalan kita... karenanya hati-hati dengan hati ..."
Saya terperanjat bangun, di luar kaca jendela hari mulai terang. Seperti kemarin, hari pasti berlanjut kembali membawa kebaruan-kebaruan yang tak pernah sama. Namun bagai denting piano yang tiada henti melantunkan simponi panjang, suara dari kejauhan itu tak jua hilang dari ingatan dan hati saya.
Saya tak tahu pasti, entah darimana datangnya suara yang terpantul dan begitu lekat di hati itu. Kalimat yang sama, terngiang, terulang : hati-hati dengan hati...
Bagaimanapun adanya, saya sungguh patut bersyukur kepada Tuhan, sebagaimana tiap pergantian hari, saya mulai dengan senantiasa menyebut namaNya. Hari ini dengan pesan unik itu, saya mulai lembar demi lembar catatan 'sejarah' pribadi. Ah!. Betapa indah hari ini.

syukur bisa syukur

Pernah ikut hajatan?. Pernah diundang pesta panen, kawinan, sunatan, tingkeban, dan pesta-pesta lain yang serupa?. Kita semua pasti pernah terlibat dalam beragam acara yang dipenuhi seremonial 'syukur-syukuran' macam itu. Yang dari awal acara hingga ritual detik terakhir hanya bermuatan satu makna: rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Kalau ada diantara anda yang menjawab tidak pernah atau belum sekalipun hadir dalam acara-acara macam itu sepanjang hidup, saya perlu ragu: jangan-jangan anda berasal dari spesies yang beda, atau bahkan berasal dari planet lain nun jauh disana. he he he ...
Sebagai bagian dari sebuah bangsa yang masih berpegang teguh dengan berbagai macam adat budaya ketimuran yang kental dengan aroma religius, dalam setiap tahapan kehidupan yang berbau sukacita dan pencapaian prestasi, kita menjadi terbiasa dengan aneka macam cara pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Apapun bentuknya, semua punya tujuan baik yang sama: menunjukkan rasa terimakasih atas pemberian, rasa syukur atas segala nikmat yang telah diterima. Sebuah kelayakan sikap dan tindakan, bersesuaian dengan logika dan etika.
Begitulah, syukur atas nikmat memang patut dilakukan. Hampir semua orang akan melakukan hal yang sama pada saat sedang bergelimang dengan sukacita. Dari hal-hal besar dan penting semisal menerima tambahan rezeki dari tender proyek baru, menyambut kelahiran buah hati, lulus ujian masuk sekolah atau perguruan tinggi, menerima kabar positif setelah proses wawancara kerja, sampai pada hal-hal kecil dan 'biasa' semacam peritiwa 'jadian' sama pacar, atau ketemu gebetan baru setelah putus hubungan kasih dengan gacoan lama. Dalam peristiwa macam ini kita semua sudah pasti mampu bersyukur.
Nah, kalau sekedar begitu, semua pasti bisa. Jadi nggak ada yang beda.
Kita yang bisa bersyukur karena Tuhan telah membuat kita bisa bersyukur, ini baru beda. Karena ini berarti mensyukuri rasa syukur itu sendiri, bukan nikmat-nikmatnya. Jadi dalam kondisi mendapatkan nikmat atau tidak, kita tetap aja bersyukur. Karena kita tahu, nikmat itu bukan cuma berarti apa-apa yang berbau sukacita saja. Nikmat itu adalah setiap apapun yang Tuhan berikan. Yang kita anggap kesenangan maupun dukacita, karena pada dasarnya semua itu pemberian Tuhan, maka semua itupun sesungguhnya adalah sesuatu yang terbaik untuk kita. Sayang kita jarang tahu tentang kebenaran ini, karena jalan hidup kita memang bak teka-teki, tak ubahnya puzzle yang belum sempurna tersusun, hingga gambar akhirnya masih misteri buat kita, dan hanya Tuhan yang tahu.
Namun tak apa, mari lakukan apa yang kita bisa aja. Syukur bisa syukur, bolehlah sebagai awalnya.

19 Agustus 2007

bahagia dimana-mana

Betapa nikmatnya hidup bila kita mampu merdeka selalu dan berbahagia senantiasa. Mengapa tidak. Tentu saja karena semua itu tergantung diri kita sendiri. Biasanya bila kita inginkan sesuatu di pikiran, dan ingin itu ngendap di hati, lama-lama, kalau tidak seketika, maka semua itu bisa terwujud. Bukan sulap, bukan sihir, tapi mungkin sudah setting alami dari sononya. Sampai-sampai saya kuat menduga: biar nggak sedahsyat KUN Tuhan, rasanya kita juga punya semacam 'kun' juga dalam bentuk lain.
Entahlah, saya nggak tahu pasti, mungkin konsep 'ngawur' saya ini memang nggak berlaku umum. Tapi setidaknya, begitulah yang sering saya alami. Betapa banyaknya, kalau tidak bisa disebut seluruhnya, apa saja yang saya inginkan, pada waktunya masing-masing, sungguh-sungguh jadi nyata. Hal yang seringkali membuat saya takjub dibuatnya. Bahkan sampai terpingkal-pingkal tanpa ampun, saking takjubnya.
Pada kesempatan ini ada sesuatu yang ingin saya share dengan anda semua, berkenaan dengan apa yang di awal saya sebut sebagai konsep 'ngawur' itu.
Beberapa waktu yang lalu, saya sangat ingin tahu lebih banyak, apa sih makna bahagia yang sesungguhnya. Kok selama ini, rasanya saya belum mampu menikmatinya dengan sepenuh hati. Hati saya ini kadang masih memilih-milih waktu dan tempat, kadang memilih respon dan hal-hal lain yang ada di 'dunia luar' hanya untuk merasakan apa yang namanya kebahagiaan itu. Padahal kan mestinya tak harus begitu, menurut pikiran saya. Bukankah bahagia itu 'sesuatu' yang adanya di 'dalam'?. Karena saya bahlul, entahlah juga, saya nggak tahu pasti gimana yang sebenarnya. Anda mungkin punya jawaban yang lebih jitu mengenai hal ini.
Nah, tanpa saya sadari, apa yang saya inginkan tersebut benar-benar jadi nyata. Malah berlebih dari apa yang saya ingin, satu paket dengan bahagia yang saya terima, juga terdapat banyak hal lain yang saya nikmati sepenuh hati. Yaitu tubuh yang lebih bugar, syaraf yang lebih 'kendur', otak yang lebih tokcer. Pendeknya, kesehatan yang lebih prima dari sebelumnya.
Saya bersyukur kepada Tuhan, hanya dengan bermodal 'kepingin' pada salah satu hal saja, Tuhan sudah bermurah hati memberi saya banyak bonus gratisan yang tak kalah seru dan nikmatnya.
Sekarang saya jadi tambah yakin, bahagia itu ada dimana-mana. Kadang kita perlu mencarinya. Kadang dia hadir sendiri di depan kita, begitu kita menginginkan kehadirannya.
Jadi, jangan pernah takut jadi manusia yang bejibun kepingin-nya, jangan ragu pula untuk bahagia kapan saja. Semua bisa didapat dengan benar-benar tanpa modal besar di luar kemampuan kita. Untuk jadi bahagia, kita nggak perlu kehilangan sesuatu. Nggak perlu pilih-pilih tempat dan waktu. Karena bahagia itu memang ada dimana-mana. Tentang hal ini, anda boleh percaya.

16 Agustus 2007

merdeka always selalu

Buat anda yang lahir tepat 17 agustus, selamat ultah. Buat anda yang tidak ultah pada 17 agustus, selamat merayakan ultah republik indonesia kita. Terimalah salam merdeka dari saya, sesama insan merdeka.
Pada saat ultah dan hari bahagia lain dalam beragam bentuknya, selalulah berbahagia. Tersenyumlah dengan tulus saat anda pingin tersenyum. Tertawalah lepas, bila anda sudah kebelet pingin ketawa. Keduanya sama benarnya, sama nggak apa-apanya. Coba aja, biar terasa manfaatnya yang luar biasa.
Secara sederhana, carilah makna-makna 'merdeka' dalam keseharian kita. Merdeka dari apa saja yang 'minus' nilainya.
Sebelum kiamat benar-benar tiba, merdekalah selalu. Jangan biarkan ada belenggu. Dalam segala bentuknya.
Yakinlah bahwa merdeka itu sebenarnya mudah. Semua bisa menikmatinya, asal mau aja. Karena sejak mulanya, kita semua memang terlahir merdeka. Waktu beserta peristiwa-peristiwa yang dibawanyalah yang terkadang membuat kita merasa bahwa merdeka yang kita punya kian berkurang jumlahnya. Padahal kapanpun waktunya kita mau, asal mau, maka seketika itupun kita akan rasakan arti merdeka.
Dalam hari bahagia ini, ijinkan saya mengajak anda semua untuk mulai meraih kembali merdeka yang kita punya. Mari bersama tempuh jalan ini dengan segala dinamikanya. Pasti akan banyak cerita seru yang mengiringinya. Bersiaplah untuk itu. Bersiaplah selalu untuk menjadi insan merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Kun, merdekalah. Maka kita akan merdeka always, selalu.